Buku

Menampilkan 10 entri dari 10 hasil.  

Perbatasan adalah konsepsi sekaligus elemen empiris dari konstruksi negara-bangsa yang menjadi penanda bagi bekerjanya otoritas kedaulatan dan identitas kebangsaan dari suatu negara-bangsa.

Agaknya, kutipan berikut telah cukup tepat mewakili isi buku ini: “Lain daripada itu, dalam Negara yang menganut paham demokrasi seharusnya diberikan kesempatan seluas-luasnya kepada rakyat untuk ikut serta dalam pemerintahan.” Semboyan daripada demokrasi ialah pemerintahandari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Kalau semboyan ini benar-benar hendak direalisasikan, maka tidaklah cukup dengan melaksanakannya pada tingkat Nasional atau Pusat saja tetapi juga pada tingkat Daerah.

Ada sejumlah kontradiksi yang secara faktual dihadapi oleh perempuan Indonesia, terlepas dari klaim dukungan negara dan masyarakat terhadap peran serta kontribusi perempuan bagi kehidupan publik. Kontradiksi tersebut antara lain inkonsistensi penegakan aturan formal yang menempatkan perempuan sebagai subyek warga negara yang setara dengan partner-nya. Masih bertahannya pandangan sebagian besar publik Indonesia yang melihat asosiasi antara perempuan dan kerja wilayah domestik sebagai bagian dari “hukum alam” dibarengi dengan pandangan yang melihat kerja wilayah domestik merupakan subordinat dari kerja di wilayah publik. Dalam situasi tersebut, di satu sisi ide emansipasi perempuan telah relatif diterima sebagai norma masyarakat Indonesia modern. Namun, di sisi lain ada sejumlah ide serta praktik sosial lama yang masih secara kuat menstruktur alam pikir dan perilaku masyarakat Indonesia, tidak hanya laki-laki tetapi juga para perempuan itu sendiri.

Kajian kepartaian belakangan ini dipenuhi analisis kompetisi dan dinamika struktur internal partai politik di ranah sosial. Tatanan demokrasi yang mendunia akhirnya tidak mampu lagi menghadirkan sebuah studi lahirnya partai politik dalam konteks lokal. Di titik inilah, buku ini menghadirkan kekosongan tersebut dari fakta kemunculan dan praktik penyelenggaraan partai politik lokal di Indonesia.

Amir Sjarifoeddin menjadi korban dari Revolusi Indonesia yang turut ia gagas.Perjuangannya tidak dihargai dengan pantas dan sejarah resmi negara melupakan perannya dalam memerdekakan bangsa.

Sakralisasi Keraton Jawa mengakibatkan sangat sedikit informasi mengenai suksesi pemerintahan di lingkungan keraton. Meskipun demikian, Susilo Harjono mampu merangkum data dari dokumen rahasia maupun wawancara secara mendalam dengan pihak-pihak internal keraton terkait realitas suksesi raja-raja Ngayogyakarta dari tahun 1755-1989.

Model Citizenship di Indonesia adalah hibridasi -oposisional antara nilai-nilai liberal dan komunitarian sehingga tepat jika disebut sebagai model denizenship.

Belum banyak orang menyadari bahwa politik tidak saja berada dalam ranah kembaga-lembaga formal seperti negara, tapi juga sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Pasca jatuhnya rezim otoritarian Orde Baru, konstelasi politik di Indonesia diwarnai dengan munculnya berbagai organisasi rakyat dalam berbagai sektor, seperti buruh, nelayan, kaum miskin kota dan tentunya petani.

Temuan dari buku ini adalah kenyataan bahwa suksesi raja-raja bersifat sangat cair. Ini artinya, suksesi pemimpin tidak pernah saklek atau tertumpu pada aturan tertentu (paugeran).