Buku

Menampilkan 7 entri dari 7 hasil.  

  • 2009
  • Purwo Santoso, Haryanto, Ratnawati, AAGN Ari Dwipayana, Wawan Mas'udi, Nanang Indra Kurniawan, Sigit Pamungkas, Nur Azizah, Abdul Gaffar Karim, Erwin Endaryanta, Uswah Prameswari, Joash Tapiheru, Titik Widayanti, Eko Agus Wibisono

Dalam sebum talk show, Gubernur Kalteng periode 2005-2010, Agustin Teras Narang (Aan), menyatakan bahwa komitmennya dalam memimpin provinsi adalah untuk membangun dari daerah.

  • 2009
  • Bayu Dardias, Hasrul Hanif, I Ketut Putra Erawan, Longgina Novadona Bayo, Miftah Adhi Ikhsanto, Nanang Indra Kurniawan, Nur Azizah, Sigit Pamungkas
  • Politik Lokal

Tulisan ini hendak memberikan gambaran tentang gagasan dasar partisipasi di dalam tulisan ini akan dijelaskan segala seluk beluk partisipasi mulai dari makna partisipasi, prasyarat, unsur-unsur partisipasi beserta variasi bentuk partisipasi. Berikutnya akan dipaparkan berbagai bentuk masalah yang muncul dan potensial dihadapi ketika menginternalisasikan nilai-nilai partisipasi dalam aktivitas pemerintahan keseharian. Terakhir tulisan ini akan menjelaskan langkah-langkah praktis mengimplementasikannya nilai-nilai partisipasi secara optimal di dalam praktik kepemerintahan.

Penelitian ini dimaksudkan untuk (1) menunjukkan faktor-faktor yang melatarbelakangi gerakan FPTV sebagai manifestasi kedaulatan petani di perkebunan tembakau Vorstenlanden. Selain itu, juga (2) memahami aktualisasi gagasan FPTV dalam tataran praktis sebagai gerakan yang mengangkat bargaining position petani di hadapan PTPN X. Sebagai pamungkas, penulis akan (3) mediskripsikan perubahan yang terjadi dalam struktur hubungan Patronklien di lingkungan perkebunan tembakau Vorstenlanden?

Perjalanan dan dinamika pedagang di Nusantara menjadi penting untuk melacak keberadaan borjuasi yang muncul pada abad ke-19 dan ke-20. Kelompok borjuis ini lahir dan bermunculan di beberapa daerah (borjuasi elitis) yang kemudian bertemu dalam perdagangan Nusantara sebagai akibat dari perkembangan perdagangan dari pelayaran

Buku ini mengantarkan pembaca untuk memahami konsep-konsep dasar dalam pemilu dan pemilu-pemilu yang berlangsung di Indonesia. Pembahasan dilakukan secara sederhana dan ringkas dengan tetap mejaga kualitas substansi. Bagian pertama buku ini membahas posisi pemilu dalam negara demokrasi, unsur-unsur sistem pemilu, hingga penyelenggaraan pemilu. Pada bagian kedua, dibahas tentang pemilu-pemilu di Indonesia, seperti Pemilu 1965, pemilu pada masa Orde Bary, dan pada reformasi.

Masih minimnya kajian subaltern di Indonesia menginspirasi penulis untuk menghadirkan studi tentang Pergulatan Identitas Waria yang dibingkai dalam politik subaltern. Keberadaannya sebagai komunitas subaltern sebenarnya memiliki berbagai dimensi yang sangat menarik untuk dikaji baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Konsep tentang identitas dan politik identitas, pola relasi kekuasaan dalam komunitas waria dan konsep subaltern yang dikontekskan dengan keberadaan komunitas waria di Yogyakarta akan mengisi bagian awal dari buku ini. Bab selanjutnya berisi tentang pembentukan dan pergulatan identitas waria. Identitas waria dibentuk dan dikuatkan dengan hasil pelacakan dari berbagai budaya di ranah global sampai lokal yang berkaitan dengan identitas waria.

Buku ini mendiskusikan salah satu isu penting dalam kajian ilmu politik, yaitu perubahan institusional. Lebih mengerucut lagi, buku ini berbicara tentang peran faktor lingkungan, dalam hal ini globalisasi, terhadap perubahan institusi negara kesejahteraan. Dalam banyak kajian yang dilakukan para globalis tentang negara kesejahteraan disebutkan bahwa globalisasi membawa proses homogenisasi di berbagai negara menuju model ‘negara kesejahteraan liberal’.