Buku

Menampilkan 8 entri dari 8 hasil.  

Buku ini menjelaskan fenomena populisme melalui serangkaian pertanyaan, mengapa Indonesia di akhir 2016 tiba-tiba menjadi begitu jauh dari "Model Solo"Jokowi dalam menegosiasikan kontrak sosial? Mengapa dinamika Jakarta mengingatkan pada fenomena terpilihnya Donald Trump dan kemampuan politisi populis sayap kanan di Eropa yang meraih dukungan besar tidak saja dari kaum ekstrimis dan rasis tetapi juga dari kelas pekerja yang diabaikan?

Argumen inti buku ini adalah kewarganegaraan diproduksi dan dipraktikkan melalui gerakan melawan ketidakadilan. Gerakan berbentuk perjuangan ini digerakkan oleh orang-orang di tingkat akar rumput dan kelas menengah yang merepresentasikan aktivisme dan organisasi. Selain menuntut pengakuan budaya, keadilan sosial dan ekonomi, gerakan ini juga merupakan ekspresi representasi populer.

Monograf seri “Sejarah Politik Kewargaan di Indonesia: Politik Pengakuan, Politik Redistribusi Kesejahteraan dan Politik Representasi” hadir untuk memberikan gambaran mengenai perjalanan politik kewargaan di Indonesia sejak awal abad ke-20. Bahasan tersebut sesuai dengan tujuan kajian citizenship yakni mengungkapkan bagaimana konsepsi kewargaan diproduksi dan dipraktekkan dari waktu ke waktu. Tulisan sebanyak 69 halaman ini memaparkan perkembangan konsep kewargaan, perspektif-perspektif dominan tentang kewargaan, serta politik kewargaan. Tarik ulur konsep kewargaan di Indonesia tidak lepas dari proses institusionalisasi dan regulasi versus perlawanan dan tuntutan dari bawah. Konsep kewargaan juga merupakan representasi kepentingan bersama tanpa mengesampingkan perbedaan golongan.

Buku ini adalah kumpulan narasi tentang perjuangan aktor-aktor pro-demokrasi mempolitisasikan demokrasi dengan beragam strategi demi mengarahkan demokratisasi kepada kesejahteraan. Lima belas kasus dari berbagai daerah menunjukkan bahwa demokrasi yang menyejahterakan tidak mungkin terwujud tanpa kontrol publik atas pengelolaan kesejahteraan.

Buku ini mengulas keadaan demokrasi dan demokratisasi di Indonesia, melalui pendekatan kritis terhadap pencapaian dan tantangan di Indonesia.

Model Citizenship di Indonesia adalah hibridasi -oposisional antara nilai-nilai liberal dan komunitarian sehingga tepat jika disebut sebagai model denizenship.

Ada sejumlah kontradiksi yang secara faktual dihadapi oleh perempuan Indonesia, terlepas dari klaim dukungan negara dan masyarakat terhadap peran serta kontribusi perempuan bagi kehidupan publik. Kontradiksi tersebut antara lain inkonsistensi penegakan aturan formal yang menempatkan perempuan sebagai subyek warga negara yang setara dengan partner-nya. Masih bertahannya pandangan sebagian besar publik Indonesia yang melihat asosiasi antara perempuan dan kerja wilayah domestik sebagai bagian dari “hukum alam” dibarengi dengan pandangan yang melihat kerja wilayah domestik merupakan subordinat dari kerja di wilayah publik. Dalam situasi tersebut, di satu sisi ide emansipasi perempuan telah relatif diterima sebagai norma masyarakat Indonesia modern. Namun, di sisi lain ada sejumlah ide serta praktik sosial lama yang masih secara kuat menstruktur alam pikir dan perilaku masyarakat Indonesia, tidak hanya laki-laki tetapi juga para perempuan itu sendiri.

Buku ini mendiskusikan salah satu isu penting dalam kajian ilmu politik, yaitu perubahan institusional. Lebih mengerucut lagi, buku ini berbicara tentang peran faktor lingkungan, dalam hal ini globalisasi, terhadap perubahan institusi negara kesejahteraan. Dalam banyak kajian yang dilakukan para globalis tentang negara kesejahteraan disebutkan bahwa globalisasi membawa proses homogenisasi di berbagai negara menuju model ‘negara kesejahteraan liberal’.