Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
  • Home
  • Artikel

Pemanfaatan Air Tanah Berlebihan Picu Banjir

  • Artikel
  • 10 Maret 2022, 04.12
  • Oleh : PolGov Admin

SEMARANG, suaramerdeka.com – Konsorsium Ground Up yang terdiri dari akademisi dan kelompok masyarakat sipil (IHE Delft Institute for Water Education, University of Amsterdam, Universitas Gadjah Mada, Amrta Institute dan KruHA) melakukan penelitian mengenai akses dan risiko terkait air di Kota Semarang.

Salah satu tim peneliti, Bosman Batubara yang juga mahasiswa Program Doktor pada IHE Delft Institute for Water Education mengatakan, di antara temuan atau hasil kajiannya tersebut menunjukkan ketergantungan Semarang yang besar pada air tanah untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari (79,7%). Dari persentase tersebut, sebanyak 48,6 % di antaranya menggunakan air tanah dalam dan 31,1 % menggunakan air tanah dangkal.

“Kami menemukan di wilayah yang sudah tersedia jaringan PDAM, responden di lokasi tersebut menggunakan air tanah dalam sebagai sumber air utama. Sebagai contohnya Pandean Lamper, Siwalan, Sambirejo, Karangtempel, Rejosari, Lamper Lor, Lamper Kidul dan Lamper Tengah,” sebutnya dalam konferensi pers secara daring/virtual, Selasa (16/2).

Menurutnya, ketergantungan pada air tanah relevan dengan pengelolaan banjir karena pengambilan air tanah yang berlebihan dari akuifer tertekan dapat menyebabkan terjadinya amblesan tanah (land subsidence).

Pada sisi lain, amblesan tanah berdampak pada peningkatan risiko banjir. Banjir yang dimaksud adalah banjir lokal akibat curah hujan di satu lokasi melebihi kapasitas sistem drainase yang ada.

“Selain itu, banjir rob yang terjadi akibat aliran dari air pasang atau aliran balik dari saluran drainase akibat terhambat oleh air pasang,” ujarnya.

Dijelaskan pula, beberapa penyebab amblesan tanah selain pemanfaatan air tanah berlebihan adalah pembebanan bangunan, kompaksi (pemadatan) tanah aluvial, aktivitas tektonik dan pengerukan berkala yang dilakukan di Pelabuhan Tanjung Emas yang membuat sedimen di bawah Kota Semarang bergerak ke arah laut.

Direktur Amrta Institute for Water Literacy dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro Semarang, Nila Ardhianie menyatakan, beberapa temuannya dipandang relevan dengan kejadian banjir yang terjadi di Semarang beberapa hari lalu.

Sementara itu, sejumlah peneliti yang turut melakukan kajian ini antara lain Muhammad Reza Shahib (Koordinator Nasional Koalisi Rakyat Atas Air – KruHA), Dr Amalinda Savirani (Kepala Departemen Politik & Pemerintahan, Fisipol Uiversitas Gadjah Mada Yogyakarta).

Kemudian Prof Margreet Zwarteveen (Professor Tata Kelola Air pada University of Amsterdam dan IHE Delft Institute for Water Education) serta Dr Michelle Kooy (Departemen Sistem Air Terpadu dan Tata Kelola pada IHE Delft Institute for Water Education).

(Publikasi awal di Suara Merdeka.com, 16 Februari 2021)

Tags: ARTIKEL

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Related Posts

Resensi Buku: Meneropong Demokrasi di Indonesia

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(20-08-2016) Buku ini secara luas dan mendalam mencoba untuk memahami keadaan demokrasi di Indonesia setelah Reformasi 1998. Buku ini juga menawarkan beberapa hal yang mungkin dilakukan untuk memperbaiki mutu demokrasi di Indonesia dengan berpijak pada […].

Kampanye Politik Pro-Rakyat Masih Harus Dikritisi

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(25-02-2014) JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil penelitian yang dilakukan Power Welfare and Democracy (PWD) Universitas Gadjah Mada dan University of Oslo mengungkapkan, perpolitikan di Indonesia mulai mengarah pada munculnya kampanye pro-rakyat (populisme).

Resensi Buku: Tantangan Demokrasi dalam Pemilu Serentak

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(30-08-2015) Indonesia pasca otoritarianisme diwarnai dengan munculnya reorganisasi elite masa lalu yang hendak menjaga dominasi dalam era demokrasi baru (Hadiz & Robison, 2004). Hal tersebut berimplikasi pada maraknya perilaku predator politik yang dilakukan elite, baik […].

Otonomi Daerah: Tak Ada Jalan Kembali Menuju Sentralisasi

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(15-04-2016) Harianjogja.com, JOGJA-Selama 20 tahun berjalannya otonomi daerah memberikan dampak positif dan negatif kepada daerah dan negara Indonesia secara umumnya. Meski demikian, tak ada lagi jalan atau alasan yang membenarkan untuk Indonesia apabila akan kembali […].
Universitas Gadjah Mada

Alamat

Gedung BA Lt. 4 FISIPOL UGM
Jl Sosio Yusticia, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Kontak

Whatsapp. (+62) 811 2515 863
Telp. (+62) 274 – 555880
Fax. (+62) 274 – 552212

© 2025 PolGov UGM - Research Centre for Politics and Government