Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Tentang Kami
  • Kontak
  • Bahasa Indonesia
    • Bahasa Indonesia
    • English
  • Home
  • Artikel

Kampanye Politik Pro-Rakyat Masih Harus Dikritisi

  • Artikel
  • 10 Maret 2022, 05.09
  • Oleh : PolGov Admin

(25-02-2014)

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil penelitian yang dilakukan Power Welfare and Democracy (PWD) Universitas Gadjah Mada dan University of Oslo mengungkapkan, perpolitikan di Indonesia mulai mengarah pada munculnya kampanye pro-rakyat (populisme). Para elite politik berusaha memperluas basis dukungan melalui program-program pro-rakyat.

Di sinilah, hubungan demokrasi dan kesejahteraan mulai terbangun. Namun, hubungan kedua hal tersebut masih harus dikritisi. Peneliti UGM, Amalinda Savirani, menuturkan bahwa para elite mulai menerapkan gerakan populisme untuk membuat koneksi langsung antara pemimpin dan yang dipimpin.

Kebijakan yang ditawarkan pun “apa yang disukai rakyat”. Hal ini dianggap menyederhanakan masalah kebijakan. “Kecenderungan di Indonesia, populisme bukan dalam makna yang ideologis, yaitu menginjeksi kedaulatan rakyat dalam proses pengambilan kebijakan. Dalam hal ini, memang demokrasi dan kesejahteraan sudah tersambung, tapi bentuknya seperti apa masih perlu dikritisi,” ujar Amalinda dalam diskusi di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (25/2/2014).

Amalinda pun mengakui bentuk strategi populisme ini masih memberikan kelas yang berbeda antara penguasa bersama kroni dengan rakyatnya.

Sementara itu, profesor bidang Ilmu Politik dan Penelitian Pembangunan dari University of Oslo, Olle Tornquist, menambahkan, bentuk hubungan seperti itu sebenarnya tidak lagi diminati masyarakat. “Saat ini masyarakat punya informasi yang lebih baik. Sangat sulit membayar suara mereka melalui sistem klien dan patron seperti ini yang kemudian disebut sebagai populisme,” kata Olle.

Sistem seperti ini, sebut Olle, telah menciptakan stagnansi demokrasi di Indonesia. Kebijakan diambil secara top-down tanpa melibatkan masyarakat yang paling terkena dampaknya. Padahal, kebijakan yang diambil disebut pro-rakyat. Salah satu yang dia soroti adalah soal tuntutan kesejahteraan buruh. Dia berharap agar ada pelibatan kelompok masyarakat kecil ini dalam proses pengambilan kebijakan.

Tags: ARTIKEL

Tinggalkan Komentar Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Related Posts

Resensi Buku: Meneropong Demokrasi di Indonesia

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(20-08-2016) Buku ini secara luas dan mendalam mencoba untuk memahami keadaan demokrasi di Indonesia setelah Reformasi 1998. Buku ini juga menawarkan beberapa hal yang mungkin dilakukan untuk memperbaiki mutu demokrasi di Indonesia dengan berpijak pada […].

Resensi Buku: Tantangan Demokrasi dalam Pemilu Serentak

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(30-08-2015) Indonesia pasca otoritarianisme diwarnai dengan munculnya reorganisasi elite masa lalu yang hendak menjaga dominasi dalam era demokrasi baru (Hadiz & Robison, 2004). Hal tersebut berimplikasi pada maraknya perilaku predator politik yang dilakukan elite, baik […].

Otonomi Daerah: Tak Ada Jalan Kembali Menuju Sentralisasi

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

(15-04-2016) Harianjogja.com, JOGJA-Selama 20 tahun berjalannya otonomi daerah memberikan dampak positif dan negatif kepada daerah dan negara Indonesia secara umumnya. Meski demikian, tak ada lagi jalan atau alasan yang membenarkan untuk Indonesia apabila akan kembali […].

Pengamat: Putusan MK Perlu Diikuti Perbaikan Kaderisasi Parpol

Artikel Kamis, 10 Maret 2022

17-05-2016 YOGYAKARTA, KOMPAS.com – Putusan Mahkamah Konstitusi yang membolehkan calon tunggal dalam pilkada serentak perlu diikuti perbaikan partai politik dalam melakukan kaderisasi. Parpol dituntut menghasilkan calon pemimpin yang memadai untuk diajukan dalam Pilkada.
Universitas Gadjah Mada

Alamat

Gedung BA Lt. 4 FISIPOL UGM
Jl Sosio Yusticia, Bulaksumur, Yogyakarta 55281

Kontak

Whatsapp. (+62) 811 2515 863
Telp. (+62) 274 – 555880
Fax. (+62) 274 – 552212

© 2025 PolGov UGM - Research Centre for Politics and Government