Buku

Melalui buku ini penulis ingin membuka mata para pembaca bahwa membangun kekuatan militer yang besar dan tangguh mutlak diperlukan bagi sebuah negara. Seperti pesan yang disampaikan sebuah pepatah klasik “SI VI PACEM PARABELLUM” yang artinya “Barang siapa menginginkan perdamaian, maka wajib baginya untuk bersiap-siap berperang”. Hiduplah Kejayaan Indonesia Selama-lamanya.

Ketika Tsunami pada akhir Desember 2004 semakin memperuncing perang sipil di Sri Langka, Aceh justru mengalami transisi yang luar biasa dari situasi konflik dan bencana ke arah perdamaian. Provinsi di ujung Pulau Sumatera, yang telah berpuluh tahun berusaha memisahkan diri dari Indonesia itu, kini memulai era baru dalam pembangunan. Yang menarik, sebagaimana dituturkan buku ini, keajaiban itu dimungkinkan oleh adanya proses demokratisasi. Untuk kali pertama, kombinasi intervensi internasional dan kesepakatan di tingkat lokal, akhirnya membuahkan hasil. Mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana proses tersebut bisa berlangsung? Dalam buku ini, para ilmuwan senior, serta para peneliti berpengalaman berupaya menyajikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Selama ini, ada kecenderungan dominasi perspektif modernis rasional-komprehensif dalam kajian analisis kebijakan. Sayangnya, dominasi perspektif ini telah mencapai level mendekati hegemonik sehingga menutup mata sebagian besar publik awam tentang keberadaan berbagai perspektif alternatif. Selama ini, analisis kebijakan identik dengan kerumitan dan kompleksitas yang hanya bisa diatasi oleh mereka yang “ahli”. Mitos inilah yang ingin digugat melalui modul ini. Selain menjabarkan langkah-langkah praktis dalam menganalisis proses kebijakan, terlebih dahulu mengajak para pembaca untuk back to basic dalam melakukan analisis. Pemahaman metodologis, model, dan posisi yang dipilih seorang analis merupakan hal mendasar dan krusial dalam membangun analisis yang berkualitas dan berkarakter, disamping kepiawaian dalam menggunakan berbagai metode dan instrumen analisis.

Buku ini mengkisahkan Partai Demokrasi Indonesia yang berkembang menjadi sebuah kutub yang tidak saja melawan kecenderungan, tetapi juga menguras lebih banyak energi penguasa selama lebih dari satu dasawarsa.

Lebih dari dua puluh tiga tahun lalu, organisasi Gay pertama di Indonesia didirikan di Yogyakarta. Organisasi tersebut memberi warna berbeda bagi dunia gerakan di Yogyakarta yang telah diisi dengan berbagai organisasi. Organisasi tersebut bernama PGY, Persaudaraan Gay Yogyakarta. Buku ini melacak tentang gerakan Gay di Yogyakarta dari awal mula terciptanya gerakan hingga sekarang. Buku ini juga memotret pertarungan wacana Gay dengan wacana kuasa agama dan negara yang telah berlangsung selama ratusan abad.

Masyarakat Pulau Numfor, Provinsi Papua Adalah baviaan dari mereça yang selama ini sangat merindukan kehadiran negara dalam bentuknya yang paling mendasar, pelayanan publik dan pembangunan ekonomi yang berkeadilan

Pemikiran di balik buku ini melihat betapa selama ini proses pembacaan “masyarakat islam” adalah sekedar diwawancarai. Baik ilmuwan , cendekia, ulama, stay took islam yang dijadikan sampling analisis penelitian yang selama ini seaman-akan mewakili “ Rakyat Islam Indonesia”

Buku ini mengantarkan pembaca untuk memahami konsep-konsep dasar dalam pemilu dan pemilu-pemilu yang berlangsung di Indonesia. Pembahasan dilakukan secara sederhana dan ringkas dengan tetap mejaga kualitas substansi. Bagian pertama buku ini membahas posisi pemilu dalam negara demokrasi, unsur-unsur sistem pemilu, hingga penyelenggaraan pemilu. Pada bagian kedua, dibahas tentang pemilu-pemilu di Indonesia, seperti Pemilu 1965, pemilu pada masa Orde Bary, dan pada reformasi.

Perjalanan dan dinamika pedagang di Nusantara menjadi penting untuk melacak keberadaan borjuasi yang muncul pada abad ke-19 dan ke-20. Kelompok borjuis ini lahir dan bermunculan di beberapa daerah (borjuasi elitis) yang kemudian bertemu dalam perdagangan Nusantara sebagai akibat dari perkembangan perdagangan dari pelayaran

Masih minimnya kajian subaltern di Indonesia menginspirasi penulis untuk menghadirkan studi tentang Pergulatan Identitas Waria yang dibingkai dalam politik subaltern. Keberadaannya sebagai komunitas subaltern sebenarnya memiliki berbagai dimensi yang sangat menarik untuk dikaji baik dari segi politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Konsep tentang identitas dan politik identitas, pola relasi kekuasaan dalam komunitas waria dan konsep subaltern yang dikontekskan dengan keberadaan komunitas waria di Yogyakarta akan mengisi bagian awal dari buku ini. Bab selanjutnya berisi tentang pembentukan dan pergulatan identitas waria. Identitas waria dibentuk dan dikuatkan dengan hasil pelacakan dari berbagai budaya di ranah global sampai lokal yang berkaitan dengan identitas waria.