Buku

Program try-out yang menghasilkan kelimabelas essay ini adalah bagian dari sebuah upaya bersama yang melibatkan banyak pihak, untuk mempersiapkan program pendidikan tata kelola pemilu di Indonesia. Upaya ini dimulai dari rangkaian pembicaraan antara KPU RI, Bawaslu RI dan AEC Indonesia tentang pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di lingkungan penyelenggara pemilu di Indonesia. Semenjak KPU dan Bawaslu berdiri, telah dilakukan upaya gradual untuk menguatkan SDM, di sela-sela upaya untuk menemukan sistem dan mekanisme penyelenggaraan pemilu yang lebih berkualitas.

Praktik merebut posisi kekuasaan dalam budaya Kain Timur sampai sekarang masih relevan dijadikan alat analisis untuk memahami dinamika politik kontemporer.

Buku ini adalah kumpulan narasi tentang perjuangan aktor-aktor pro-demokrasi mempolitisasikan demokrasi dengan beragam strategi demi mengarahkan demokratisasi kepada kesejahteraan. Lima belas kasus dari berbagai daerah menunjukkan bahwa demokrasi yang menyejahterakan tidak mungkin terwujud tanpa kontrol publik atas pengelolaan kesejahteraan.

Buku ini mengulas keadaan demokrasi dan demokratisasi di Indonesia, melalui pendekatan kritis terhadap pencapaian dan tantangan di Indonesia.

Buku ini menggambarkan bagaimana kekuasaan pemerintah Hindia Belanda memasuki ranah politik desa melalui penguasaan industri gula. Krisis keuangan di Mangkunegaran menjadi pintu masuk bagi pemerintah kolonial untuk memengaruhi kepala desa, elite desa, dan masyarakat. Desa diubah menjadi bagian birokrasi pemerintah Hindia Belanda untuk memperluas kekuasaan kolonial di tanah Jawa.

Gerakan mahasiswa selalu terlibat dalam setiap peristiwa-peristiwa politik penning, di antaranya gerakan kesadaran kebangkitan nasional prakemerdekaan, gerakan ’66 dan gerakan reformasi 1998. Fenomena keterlibatan mereka dalam politik dinilai konstan hingga sekarang, dan yang membedakannya hanyalah pergantian ideologi dan kebijakan dari elit pemerintah.

Kekuasaan tidak hanya hal yang berkenaan dengan masalah pertentangan atau kepemilikan. Kekuasaan juga berkenaan dengan masalah strategi dan teknik pelaksanaannya.

Dalam banyak hal, demokrasi harus menyesuaikan diri dengan praktik sosial tertentu dimana ia berada. Buku ini merupakan kajian terbaru yang lebih fokus pada masyarakat untuk melihat bagaimana klan dapat hadir dalam politik lokal di Indonesia dan pengaruhnya terhadap demokrasi.

Buku ini dipahami sebagai langkah menuju dua arah: pertama, mendekonstruksi wacana kewarganegaraan liberal; dan kedua, mengkonstruksi adalah wujud dislokasi dari wacana kewarganegaraan.

Demokrasi semestinya tidak bisa dilepaskan dari masalah kesejahteraan yang secara harfiah dihadapi masyarakat luas. Bila demokrasi hanya difokuskan pada masalah pertarungan, kontestasi, dan kandidasi, maka demokrasi hanya akan menjadi wahana selebrasi para elit. Mengaitkan dinamika demokrasi dengan ketimpangan struktur agraria merupakan salah satu upaya untuk terus mendialogkan demokrasi dengan masalah-masalah nyata yang dialami masyarakat luas.