Rilis Hasil Big Data: Masalah Toleransi dan Perdebatan Kontoversi Pelarangan Perayaan Hari Kasih Sayang di Dunia Maya

  • 18-06-2021
Sejak tahun 2016 terdapat beberapa pemerintah daerah dan cabang Majelis Ulama Indonesia (MUI) memberikan himbauan larangan perayaan Hari Kasih Sayang. Pemda didukung oleh ranting MUI setempat menganggap bahwa Valentine tidak sesuai dengan budaya Indonesia dan ajaran agama (hukumonline.com, 2016).Sampai dengan tahun 2021, beberapa pemda seperti di Aceh Utara, Kota Depok dan Surabaya kembali memberikan himbauan mengenai larangan perayaan Valentine (depok.go.id, 2021; jawapos.com, 2021; rri.co.id, 2021). Pendalaman terhadap dugaan terjadinya praktik intoleransi dalam pelarangan perayaan Valentine di Indonesia menjadi menarik untuk melihat adanya gangguan terhadap hak-hak kelompok sosial lain. Pertanyaan yang berusaha dijawan kajian ini adalah “Bagaimana Pemetaan Toleransi Warganet dalam Menanggapi Perayaan Valentine di Twitter dan Media Daring?” Melalui hasil riset ini, kami menemukan bahwa sebanyak 55,5% dari klasifikasi perbincangan di Twitter sejak tahun 2016 - 2021 menunjukkan toleransi penuh (full tolerance) terhadap adanya perayaan Hari Kasih Sayang. Sementara itu, semi intolerance hanya menempati 4,29%. Hal ini menunjukkan bahwa tren perbincangan di Twitter sejak tahun 2016 di kala banyak pemerinth daerah melakukan pelarangan perayaan valentine s.d. tahun 2021 justru menjadi ajang pembelajaran bagi warganet untuk semakin toleran atau bahkan tidak memperdulikan himbauan pelarangan perayaan Valentine. Dengan demikian, media sosial justru menjadi arena baru terbentuknya toleransi komunal di antara sesama warga dengan melihat kasus perbincangan larangan perayaan Valentine selama 2016-2021. Selengkapnya mengenai Rilis Hasil Big Data:Masalah Toleransi dan Perdebatan Kontoversi Pelarangan Perayaan Hari Kasih Sayang di Dunia Maya dapat diakses di Youtube Departemen Politik dan Pemerintahan UGM atau klik https://youtu.be/PqxZnNxWQjs Foto oleh Sharon McCutcheon via Unsplash