DPP Rilis Temuan Pola Surat Suara Tidak Sah pada Pilpres 2014

Analisis suara tidak sah belum menjadi kajian mendalam di dunia akademis. Padahal, riset pola suara tidak sah selain dapat memperkaya khazanah ilmu pengetahuan, juga dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki penyelenggaraan pemilu di tahun-tahun selanjutnya.

Demikian benang merah diseminasi hasil penelitian PolGov dengan tema “Pola Surat Suara Tidak Sah Pada Pemilu Presiden 2014 Di DIY” pada Selasa (26/07) di Ruang Seminar Pascasarjana FISIPOL UGM. Riset kerjasama PolGov dan KPU Provinsi DIY ini dilakukan selama tiga bulan, sejak tanggal 26 Mei 2016.

Pakar komunikasi politik UGM Dr. Kuskridho Ambardi membahas temuan penelitian yang dipaparkan oleh Ketua Tim Peneliti Abdul Gaffar Karim dan asisten peneliti Ulya Niami Efrina Jamson. Secara umum, riset ini memaparkan pola surat suara tidak sah yang terkumpul pada Pemilu Presiden 2014 serta sejumlah motif yang melatarbelakanginya. Sejumlah motif yang ditemukan antara lain ketidaktahuan pemilih, perbedaan persepsi, dan protest voting.

Riset ini menggunakan 1000 sampel surat suara yang tersebar di 8354 TPS di Provinsi DIY. Tim peneliti bekerjasama dengan staf KPU untuk membongkar kotak suara yang sudah tersimpan selama sekitar dua tahun di dalam gudang KPU kabupaten/kota. Banyak surat suara yang terpilih sebagai sampel tidak dapat dianalisis karena dalam keadaan rusak akibat tidak tersimpan dengan baik.

Temuan umum riset mencakup beberapa hal sebagai berikut: (1) Dari 1205 TPS diseluruh kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta, terkumpul sampling sebanyak 5484 surat suara tidak sah; (2) 84% surat suara tidak sah mengikuti pola versi KPU, namun ditemukan sebanyak 16% yang mengikuti pola baru yang ditemukan dalam riset; (3) Surat suara tidak sah yang dicoblos pada kedua pasangan calon cukup dominan 55.6% (3049) surat suara; (4) Pola coblos tembus simetris diluar keempat pola surat suara tidak sah versi KPU cukup dominan sebesar 7.9% (433) surat suara; (5) Persentase terbesar surat suara tidak sah diluar versi KPU paling banyak ditemukan di Gunung Kidul (27% dari total sampel Gunung Kidul).

Ketua tim penelitian Abdul Gafar Karim mengatakan, “saat ini belum ada studi mendalam mengenai pola surat suara tidak sah, lebih banyak kepada surat suara sah, sehingga kami sangat tertarik sekali untuk mendalaminya.” Menurutnya, kajian ini dapat dilakukan secara kontinyu dalam rangka perbaikan penyelenggaraan pemilu pada tahun-tahun selanjutnya sekaligus memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. (Alan)

[Berita terkait]