Bedah Buku

  • 30-06-2020

Kawasan Pesisir Semarang-Demak mengalami penurunan permukaan tanah tiap tahunnya lantaran pembangunan yang dilakukan di wilayah pesisir baik dalam bentuk industri maupun rencana pembangunan tanggul dan tol laut, perubahan iklim, ekstraksi air tanah yang berlebihan dan pembebanan bangunan yang tinggi. Penurunan Permukaan tanah tersebut berakibat pada terjadinya banjir dan abrasi yang berdampak fatal pada pemukiman warga sekitar yang mengakibatkan penduduk Tambak Lorok, Tanjung Mas dan Kamijen harus meninggikan rumah per sepuluh tahun setinggi 2,5 meter dengan biaya mencapai Rp 600.000/truk bermuatan tanah urug. Bila upaya peninggian rumah tidak dilakukan, rumah masyarakat di kedua kelurahan tersebut terancam amblas dan dalam rentang waktu 20 tahun, rumah warga yang tidak ditinggikan berpotensi tenggelam hingga hanya tersisa bagian plafon rumah. Hal ini pun merugikan para penduduk miskin yang pada akhirnya terpaksa untuk mengungsi di tempat-tempat publik seperti stasiun.

Akar masalah yang dinarasikan dalam Buku "Maleh Dadi Segoro: Krisis Sosial-Ekologis Kawasan Semarang-Demak" ini meliputi aturan perundang-undangan perizinan yang didalamnya menetapkan kewenangan pemberian rekomendasi bagi penataan wilayah pesisir Semarang, Kendal, dan Demak dan diskresi yang luas serta mekanisme pelaksanaan peraturan yang tidak transparan, rentan penyalahgunaan, korupsi, serta akses dan hak istimewa bagi segelintir elite yang mendiksriminasi publik terutama kelompok masyarakat yang memiliki daya lemah ekonomi dan politik seperti nelayan dan buruh.