Artikel

Menampilkan 6 entri dari 6 hasil.  

“Dalam konteks ilmu sosial, kenapa terjadi banjir yang semakin parah di Semarang, tidak selalu dikaitkan dengan hujan dan struktur geologis. Namun soal pilihan yang diambil oleh para penentu kebijakan terkait perencanaan kota, arah kebijakan dan lain sebagainya. Jika kondisi ini terus  berlanjut, saya rasa diskusi bahwa pesisir Semarang akan tenggelam dalam 10 tahun mendatang sudah sering dibicarakan,” pungkasnya. (lna)

Salah satu tim peneliti, Bosman Batubara yang juga mahasiswa Program Doktor pada IHE Delft Institute for Water Education mengatakan, di antara temuan atau hasil kajiannya tersebut menunjukkan ketergantungan Semarang yang besar pada air tanah untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari (79,7%). Dari persentase tersebut, sebanyak 48,6 % di antaranya menggunakan air tanah dalam dan 31,1 % menggunakan air tanah dangkal.

Pemerintah perlu mengembangkan insentif bagi penggunaan air permukaan dan disinsentif bagi penggunaan air tanah. Selain itu permanenan air hujan pada beragam skala, pengembangan sistem peringatan dini, dan demokratisasi infrastruktur. Demokrasi ini berarti mencari alternatif-alternatif infrastruktur dengan prinsip meninggalkan megainfrastruktur yang tersentral dan biasanya dipaksakan dari “atas ke bawah”.

‘’Pemahaman yang lebih baik akan faktor-faktor yang berpengaruh meningkatkan risiko banjir perlu dimiliki oleh pemerintah dan masyarakat agar Semarang memiliki respon yang lebih baik apabila terjadi bencana di masa datang,’’ katanya.

Pemerintah perlu mengembangkan insentif bagi penggunaan air permukaan dan disinsentif bagi penggunaan air tanah, pemanenan air hujan pada beragam skala, pengembangan sistem peringatan dini.

Kepala Departemen Politik dan Pemerintahan, Fisipol UGM Yogyakarta, Amalinda Savirani menambahkan, temuan lain yaitu PDAM sendiri masih menggunakan ATDm sebagai salah satu sumber air bakunya.